Tampilkan postingan dengan label Kiriman teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiriman teman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 April 2010

MERDEKA

- Suatu Refleksi Iman Hari Ulang Tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia -

Oleh : Jobta Tarigan

Pengantar

Bulan agustus ini Negara (State) kita memasuki usia yang ke-64 tahun.Usia yang bukan muda lagi.Dari persalinan yang cukup lama dan melelahkan,64 tahun lalu Ibu Pertiwi melahirkan sebuah Negara bernama Indonesia dari bangsa yang bernama Nusantara.Dari tanggal 17 Agustus 1945 di Jl.Penggasan Timur oleh Soekarno-Hatta (Dwi Tunggal) diteriakkan kata Merdeka (baca:Proklamasi) atas nama seluruh rakyat Indonesia.Indonesia lahir dari sebuah perjumpaan kekayaan perbedaan (Melting Plot) kebangsaan.Lahir dari rahim senasib sepenanggungan,bangsa yang terjajah,bodoh dan miskin.Tidak ada kata yang paling heriok selain kata “Merdeka” pada saat itu.Tua muda,miskin kaya raya,apapun agamanya,sukunya,warna kulitnya dan sebagainya berbaur mempertahankan kata itu.Hanya ada 2 (dua) pilihan pada saat itu: “Merdeka atoe Mati”.Sejarah bangsa dan Negara kita juga mencatat bahwa umat yang bernama Kristen pun juga terlibat di dalamnya.Dari kemerdekaan 64 tahun itulah kita sekarang dapat menikmati-merasakan yang ada sekarang dengan segala kekurangan dan kelebihannya.Untuk itulah tulisan ini mencoba mengajak kita secara sederhana merenungkan arti kemerdekaan itu dan untuk dapat berbuat lebih baik lagi buat ibu pertiwi..Untuk itu mari kita lihat Indonesia hari ini dari sisi social,budaya,ekonomi,politik setelah kemerdekaannya,sambil tanpa menutup mata akan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai bangsa kita selama ini.

Indonesia Hari Ini

Setelah memasuki orde reformasi ini, euphoria kedaerahan dan isme-isme kesukuan dan keagamaan muncul bak jamur di tengah hujan demokrasi.Belum lagi arus globalisasi yang menghanyutkan kita dalam arus sungai hedonisme.Arus kapitalisme yang hampir menelan seluruh eksistensi kemanusian kita.Kemiskinan dan pengganguran yang semakin menjadi-jadi di tengah gelombang krisis ekonomi global yang tidak tahu kapan berakhirnya.Proses demokrasi yang belum mendapatkan jati dirinya.Masih banyaknya partai-partai dengan kepentingan golongannya sendiri.Walau demikian kita patut bersyukur pemilu legislative dan pilpres bulan lalu berjalan dengan aman dan damai, walau di sana-sini masih banyak keluhan. Hak-hak azasi manusia (HAM) yang terus dikangkangi.Keagamaan yang masih terkooptasi oleh politik dan penafsiran ayat-ayat dengan sangat rigid.Kemajemukan yang di pandang sebagai bukan keniscayaan.Masalah HIV-AIDS yang masih menjadi pergumulan akan kemasadepanan anak-anak manusia khususnya Indonesia.Korupsi,Kolusi,Nepotisme (KKN) di tubuh birokasi sampai ke sendi-sendi social kehidupan yang terasa semakin menjadi-jadi tengah rakyat yang menderita kelaparan sampai busung lapar.Tingginya biaya kesehatan dan pendidikan,membuat rakyat seperti tidak lagi mempunyai ibu ditengah adiom ibu pertiwi.Nilai-nilai kebudayaan (baca:kekaroan) kita yang semakin hari tergerus oleh modrenisasi.Penyakit hewan pun menjadi penyakit manusia (penyakit flue babi dan flu burung).Walau menurut jurnal kesehatan Amerika penyakit ini sudah lama ditemukan-dikenal. Sampai berita terakhir yang paling mutahir adalah Jakarta (Hotel J.W.Marriot dan Ritz Charlton) diguncang bom oleh teroris,kejahatan kemanusian terjadi lagi.Kita semua sangat berduka dan prihatin atas hal ini. Jika kita setuju dengan salah satu syair lagu Iwan Fals :”….sungguh banyak untuk dapat di ucapkan,teramat banyak untuk di tuliskan”.Kami juga yakin pembaca akan dapat menuliskannya lebih banyak lagi.Yang menjadi persoalan adalah; terasa pengap di tengah-tengah semangat ritus-ritus keagamaan-kekristenan kita, hal-hal tersebut terjadi.Seharusnya Iman yang bagaimanakah, yang dapat kita (Baca:Gereja) perbuat untuk ibu pertiwi di ulang tahunnya ini..?

Soli Deo Gloria

Menurut pandangan Alkitab, gereja adalah persekutuan orang-orang yang dipanggil keluar (eks=keluar; kaleoo=memanggil). Mereka disendirikan untuk menjalankan tugas luhur yaitu memberitakan Kabar Baik tentang Keselamatan. Yesus Kristus sendiri memberitakan mengenai kedatangan Kerajaan Allah.Dari konteks inilah dapat kita maknai kemerdekaan sebagai anugerah sekaligus salah satu tugas panggilan,karena Allah telah terlebih dahulu memerdekakan kita dari perbudakan dosa.Kita tidak dapat berdiam diri melihat kenyatan-kenyataan yang ada di sekelilingi kita (baca:gereja).Gereja harus mewujud nyatakan kasih Kristus (Diakonia) di tengah-tengah persekutuan (Koinonia) sebagai kesaksian (Marturia) di zaman yang terus berubah .Gereja harus terus dengan lantang menyuarakan suara profetis nya.Bukan hal yang kebetulan pula kalau tahun ini gereja-gereja bercorak Calvinis (GBKP) merenungkan-merayakan 500 tahun kelahiran Yohanes Calvin serta tahun Diakonia bagi Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) kita.Slogan Soli deo Gloria seharusnya sangat nyaring terdengar di telinga kita.Calvin menggugat kita akan eksistensi keimanan kita yang paling dalam,untuk mengisi arti kemerdekaan bangsa ini sebagai perbuatan yang memuliakan Tuhan.Keimanan kita seharusnya tidak lagi bersifat simbolik-ornamental apalagi hanya bersifat ritual seremonial (walau hal tersebut baik tapi tidak substansi),misalnya penumpangan tangan,nubuatan,pengurapan minyak,puasa,doa berantai,doa semalam suntuk,dan sebagainya.Yesus sangat mengecam pengungkapan iman dengan ritual seremonial (baca: Mat 6:1-18 dan 23:14-36) apalagi dengan hanya simbolik-ornamental.Kitab Matius mencatat koreksi Tuhan Yesus sebagai berikut:”…mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai panjang….”.Keimanan kita juga tidak dapat lagi bersifat verbal,dengan ucapan:”puji tuhan…haleluya”,“terjadilah mujizat”,atau “tuhan memberkati’.Untuk iman seperti ini Yesus berkata:”bukan setiap orang yang berseru kepada Ku:Tuhan,Tuhan.! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Matius 7:21).Kalau bukan simbolik-ornamental,ritual dan verbal,keimanan yang bagaimana kiranya yang diharapkan di tengah pergumulan Indonesia hari ini dalam mengisi kemerdekaan ini.Iman yang bersifat operatif.Bukti keimanan kita harus sudah bersifat operasional.Perhatikanlah kata kerja “lakukan” pada kedua ayat di Matius.Yesus berkata dalam Matius 7:21 ; “…melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku..”dan”..segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini,kamu melakukannya untuk Aku (Bdk.Mat 25:40).Dalam bidang politik,Gereja tidak boleh a-politik, tetapi politik kita juga hendaknya bukan politik praktis yang pragmatis tapi politik kehambaan (Duolous politic).Karena gereja bukan lembaga yang dapat melegalkan seseorang menjadi anggota legeslasi, karena akan sangat bersifat subjektif.Politik gereja adalah politik humanis-profetis.Para presbiter kita juga di harapkan bukan para presbister yang berorientasi gelar emeritus dengan berbagai asumsi keduniawian (usia,kesehatan dan gelar professor doctor).Tapi para presbiter yang berorientasi pelayananan dan mengharapkan upah sorgawi (bdk. Luk 6:23 dan Mat 5:12).Sekali lagi,iman dengan penampakan operatif lah yang kita butuhkan di ulang tahun kemerdekaan bangsa ini.

Penutup (Pro Deo Et Patria)

Untuk mengisi kemerdekaan merupakan suatu panggilan tugas (a calling duty) setiap warga gereja,karena kemerdekaan itu sendiri adalah rahmad pemberian Allah.Gereja harus memaknai dan mewarnai kewarganegaraanya di dunia sebagai manifestasi kewarganegaraan sorgawinya.Untuk itu perlu penampakan iman.Penampakan iman yang bersifat operatif yang kita butuhkan di tengah krisis multi dimensi bangsa saat ini.Kita dapat berbuat,walau dengan sangat kecil-sederhana.Bukankah Allah akan memberikan perkara-perkara yang lebih besar setelah kita setia pada hal-hal yang kecil bukan.? (Bdk.Mat 25: 21 & 23).Segala eksistensi iman-kehidupan sebagai warga Negara kiranya menjadi kemulian bagi Allah(Soli deo Gloria).Kiranya, hadiah iman yang bersifat operatif kepada ibu pertiwi yang berulang tahun yang kita bawa dan perbuat.Selamat ulang tahun Negeri ku..Selamat ulang tahun Bangsa ku..Selamat ulang tahun Indonesia.

-PRO DEO ET PATRIA-

Yobta Tarigan*

email:yobta.sibero@gmail.com

mobile:0812 56860 111

Ngawan PJJ Sektor Tengah-Rg GBKP Pontianak

*Tulisan ini di tulis tengah malam pada saat merawat bidadari kecil papa (Agittha Natascha Br.Tarigan) yang sedang bergumul dengan sakit di RSU Ibu dan Anak Anugerah Bunda (10-16 Juli 2009).Semoga lekas sembuh ya nak ku…Tigan Boro.

Minggu, 31 Mei 2009

Aleksander Agung

Ia bukan dijuluki Yang Baik, sebab ia juga sering berbuat jahat. Ia pun bukan dijuluki Yang Sempurna, sebab ia keliru dalam banyak hal. Tetapi ia dijuluki Yang Agung, sebab ia berjiwa besar dalam banyak hal terutama dalam kepemimpinannya. Ia adalah Aleksander Agung (Arab: Iskandar Aqbar).

Aleksander (356-323 SM) adalah putera Raja Filipus II di Makedonia di utara Yunani. Pada usia 14-16 tahun ia belajar bahasa, sastra, budaya dan filsafat pada Aristoteles. Kemudian ia belajar kedokteran dan militer. Pada usia 20 tahun ia naik takhta menggantikan ayahnya.

Tindakan Aleksander yang pertama sebagai raja adalah mempersatukan seluruh Yunani. Lalu ia memperbarui bahasa Yunani menjadi bahasa Yunani Koine. Ia meningkatkan mutu persekolahan. Ia merangsang perdagangan dan memajukan kemakmuran. Ia mengangkat nilai-nilai luhur harkat martabat kemanusiaan sebagai dasar kebudayaan Yunani yang baru yang disebut Hellenisme.

Kemudian Aleksander memperluas kerajaannya. Ia berangkat dengan pasukan sebanyak 40.000 orang. Selama delapan tahun ia menempuh perjalanan untuk menduduki seluruh Asia Kecil, lalu Mesir, Mesopotamia, seluruh Timur Tengah, Persia, Afghanistan terus ke timur sampai ke India. Tidak terkatakan penderitaan rakyat yang dijajahnya itu, namun ia juga melakukan banyak hal yang baik. Di tiap negara yang didudukinya pasukannya membangun kota-kota ilmu pengetahuan dengan banyak gedung perpustakaan dan pusat penerjemahan buku. Walaupun ia menerapkan kebudayaan Yunani di mana-mana, namun ia tidak mempromosikan agama Yunani yang terkenal dengan upacara-upacara megah untuk banyak dewa dan dewi.

Salah satu dari puluhan kota ilmu pengetahuan yang didirikan Aleksander adalah Aleksandria (Arab: Iskandariah) di Mesir. Setelah Aleksander meninggal, kota ini masih terus berkembang dengan banyak gedung perpustakaan dan pusat penerjemahan buku. Kota ini meninggalkan dampak yang besar bagi gereja hingga sekarang, karena di kota inilah dilakukan penerjemahan Perjanjian Lama (termasuk Deuterokanonik) dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani. Terjemahan ini dikerjakan oleh 70 rabi Yahudi dan naskah pertamanya selesai dalam 70 hari, sehingga Perjanjian Lama berbahasa Yunani ini disebut LXX atau Septuaginta (Septem berarti 7, Septua 70).

Alkitab Septuaginta ini besar faedahnya bagi gereja hingga hari ini, sebab untuk membuat tafsiran jitu sering kita perlu menyelidiki bahasa aslinya. Persoalannya adalah bahwa Perjanjian Lama dalam bahasa aslinya sulit dibaca sebab bahasa Ibrani tidak berhuruf vokal, melainkan hanya terdiri 22 konsonan atau huruf mati. Jika dalam ayat itu tercantum kata bbt, maknanya perlu ditebak apakah itu babat, bebet, bibit, bobot, bubut, babet, babit, babot, babut, bebat, bebit atau lainnya.

Ketika kemudian hari Perjanjian Baru ditulis, bahasa yang digunakan adalah Yunani Koine yang sudah diperbarui oleh Aleksander menjadi bahasa internasional sehingga Injil Kristus cepat tersebar ke seluruh Asia Kecil dan Timur Tengah.

Pada awal karangan ini dikatakan bahwa Aleksander Agung berjiwa besar dalam kepemimpinannya. Ini penjelasannya. Kebesaran jiwa Aleksander Agung terletak dalam kebersamaan dengan bawahannya. Meskipun ia seorang raja dan jenderal, namun ia tidak ingin diperlakukan istimewa. Berkali-kali ia terluka parah dalam pertempuran dan ia selalu membentak tim dokternya, "Obati para perajurit lebih dulu, kalau mereka sudah diobati barulah kamu mengobati aku! Cepat, pergi, obati mereka!"

Pernah seluruh pasukannya lemas kehausan di Gurun Gedrosia. Sebagai tanda setia, para perajurit mengumpulkan sisa tetes-tetes air lalu memberikannya kepada Aleksander. Di depan perajuritnya, Aleksander menerima cawan itu tetapi ia langsung mengucurkan air itu ke tanah sambil berkata, "Kalau kamu lapar dan haus, aku juga lapar dan haus bersama kamu!"

Biasanya seorang pemimpin menomorsatukan kepentingan dirinya dan menomorduakan kepentingan bawahan. Tetapi Aleksander berbuat kebalikannya. Ia mendahulukan kepentingan bawahannya. Itulah keagungannya. Lance Kurke, pakar ilmu Pendidikan Dewasa di Universitas Duquesne, berkata bahwa calon pemimpin perlu belajar bagaimana Aleksander menghargai bawahannya. Kurke menulis dalam buku The Wisdom of Alexander the Great, "Leadership cannot be taught, but it can be learned..... However I find it difficult to help these leaders learn to be more effective without a clear, specific, tangible context....this context is Alexander the Great".

Aleksander memang patut dijuluki Yang Agung sebab ia berjiwa agung dalam kebersamaan dengan bawahannya. Bayangkan, ia rela menahan nyeri luka sabetan pedang dan tusukan tombak supaya para perajuritnyalah yang lebih dulu diobati. Ia rela menahan nyeri luka supaya luka bawahannya cepat sembuh.

Sekitar 300 tahun kemudian di sebuah negara jajahan Aleksander, ada seorang pemuda yang juga berjiwa agung. Pemuda itu juga penuh luka dan mengucurkan darah. Ia rela menahan nyeri luka-luka supaya bawahan-Nya bisa sembuh. Pemuda itu bernama Yesus. Seorang rasul-Nya bersaksi, "Oleh bilur-bilur- Nya kamu telah sembuh" (1 Ptr 2:24).

Itulah Aleksander dan Yesus. Kedua orang itu mati muda. Aleksander 32 tahun, Yesus 33 tahun. Kedua orang itu dijuluki Yang Agung. Mereka agung dalam hal-hal yang berbeda, bahkan bertolak belakang. Namun mereka sama-sama agung dalam hal rela menderita demi bawahan. Mereka hidup dalam kebersamaan dengan bawahan.

Sumber: Andar Ismail

Senin, 01 Desember 2008

D ibawah ini ada empat ( 4 ) pertanyaan dan satu pertanyaan bonus. Jawablah semua tanpa banyak pikir. Cuma boleh berpikir sedetik, jawab segera. OK?

Ayo cari tahu, seberapa pintar anda...

Siap? GO!!! (gulung layar)














Pertanyaan pertama:

anda ikut berlomba. Anda menyalip orang

di posisi nomor dua.

Sekarang posisi anda nomor berapa?

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~





Jawaban: Jika anda menjawab Nomor Satu,

anda SALAH BESAR! Jika

anda menyalip orang nomor dua, sekarang

andalah yang ada di posisi nomor dua!

Jangan ngaco lagi, ya?.
Sekarang jawab pertanyaan kedua,
tapi
jangan berpikir lebih banyak daripada ketika menjawab pertanyaan pertama tadi, OK ?

Pertanyaan Kedua:
J
ika anda menyalip orang di posisi terakhir, sekarang anda di posisi?
(gulung layar)

















~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~




Jawaban: Jika anda menjawab anda orang

kedua dari terakhir, anda

SALAH LAGI Coba, bagaimana caranya menyalip orang TERAKHIR?



Anda sebetulnya tidak


terlalu pintar, '
kan ?




Pertanyaan ketiga:

Hitung-hitungan yang pelik!

Catatan: kerjakan di pikiran anda saja.

JANGAN gunakan kertas atau pensil

atau kalkulator. Cobalah.




Ambil 1000 dan tambahkan 40 padanya.

Sekarang tambahkan
1000 lagi.

Sekarang tambahkan
30 . !

Tambahkan 1000 lagi .

Sekarang tambahkan
20.

Sekarang tambahkan
1000

Sekarang tambahkan
10 . Berapa totalnya?


gulung layar.....



~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~


Apakah hasilnya 5000 ?


Jawaban yang benar adalah

4100.




Kalau tidak percaya, cek dengan

kalkulator!

Hari apes, ' kan ?

Mungkin di pertanyaan terakhir anda bisa

benar...

....Mungkin.




Pertanyaan keempat:

Ayah Mary punya lima anak: 1. Nana,

2. Nene, 3.
Nini,

4. Nono. Siapa nama anak kelima?


~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~

Apa anda menjawab Nunu?
BUKAN!
Tentu saja bukan.
Anak kelima namanya
Mary. Baca lagi pertanyaannya!



Okay, sekarang ronde bonus:

SEORANG bisu pergi ke toko dan ingin membeli sikat gigi. Dengan menirukan orang menggosok gigi, ia berhasil menyampaikan keinginannya pada penjaga toko dan ia berhasil membeli sikat gigi...
Berikutnya, seorang buta masuk ke toko itu dan ingin membeli kacamata hitam, bagaimana DIA menunjukkan keinginannya?
















~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~



Langsung aja ngomong, dia kan gak bisu...

Chandra Jaya

PT SUMBER KITA INDAH

Jumat, 06 Juni 2008

WANITA YANG SABAR

Sabar!!!!

Susah sekali bagiku untuk bersabar. Setiap aku ingin mencoba untuk bersabar aku selalu jatuh dan jatuh dalam emosi yang begitu luar biasa.

Ketika aku duduk di bangku kuliah tingkat 1 aku berkenalan dengan seorang pria, dimana pria ini masih memiliki hubungan keluarga dengan saya. Saya berkenalan dengan dia saat adik perempuannya menikah di kampung halaman di Medan. Saat itu sang pria langsung jatuh cinta kepada saya, dan beberapa hari setelah pesta sang pria menyuruh ibunya untuk meminta no handphone saya ke ibu saya. Singkat cerita pendekatan pun mulai terjadi. Setiap hari dering handphone selalu terdengar. Akhirnya setelah berkenalan dan cerita-cerita kita berdua memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini ke arah pacaran.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hubungan kami baik-baik saja dan jarang sekali ada pertengkaran. Padahal kami menjalin hubungan jarak jauh. Sebenarnya susah sih bagi kami untuk melaluinya tapi karena ada saling percaya dan komunikasi yang baik, kami akhirnya merasa nyaman dengan jarak yang jauh itu. Setengah tahun pun akhirnya kami lalui, disaat itu aku menginginkan adanya keterbukaan tentang masa lalu pria ini dan masa lalu ku juga. Akhirnya karena jarak, ya kami hanya bisa berkirim surat saja. Surat pun akhirnya sampai ke rumah saya. Saya buka dan saya baca isi surat itu dan satu hal yang membuat saya terkejut, isi surat itu menceritakan masa lalu yang mungkin menurut orang banyak sudah menjadi sampah masyarakat. Dalam suratnya dia menceritakan kalau dia sudah pernah masuk ke dalam obat-obatan, mungkin hanya itu saja yang membuat saya terkejut.

Tapi karena saya sudah punya komitmen dalam diri saya saya tidak melihat masa lalu seseorang karena itu saya tidak mempermasalahkan hal ini, toh dia sudah tidak memakai lagi dan sudah hidup sehat.

Inilah awal mulanya kesabaranku di uji. Ketika surat itu sudah selesai saya baca suratnya saya letakkan saja diatas meja belajar saya di kamar, ternyata abang saya masuk ke dalam kamar saya dan akhirnya dia membaca semua isi surat itu. Dua hari berlalu ibu saya memanggil saya dan menanyakan kepada saya tentang hubungan saya dengan pria itu, dan saya menjawab ya kita sudah pacaran dan ibu juga sudah tau kan??? Awalnya sih hubungan saya dan pria ini disetujui oleh orang tua, tapi karena surat itu akhirnya orang tua saya melarang keras hubungan kami dan meminta saya untuk berpisah dengan pria itu. Sakit sekali bagiku mendengar hal ini. Tapi karena aku mencintai dia dan mau berusaha meyakinkan orang tua, aku tidak memikirkan perkataan orang tua dan aku terus menjalin hubungan ku secara backstreet (diam-diam).

Satu tahun berlalu dan saat itu saya sudah melanjutkan kuliah di Bandung. Karena saat saya kuliah di Medan saya tidak menyukai tempat kuliah saya. Akhirnya hubungan kami tercium oleh orang tua dan keluarga besar saya, saya pun mulai di awasi oleh kakak dan saudara sepupu saya dirumah. Sakit sekali hati ini saat itu, kemana pun saya pergi saya selalu diikuti dan di awasi oleh saudara-saudara saya. Tapi saya terus berdoa kepada Tuhan supaya memberi saya kesabaran dan kekuatan untuk menjalani ini semua. Tidak gampang bagi saya saat itu untuk menjalani ini, saya harus kuliah dan saya juga seorang pelayan sekolah minggu saat itu. Saya benar-benar dilema antara keluarga dan pria itu.

Tahun berganti tahun, akhirnya saya terus menjalin hubungan dengan pria itu, tanpa memikirkan orang tua dan keluarga saya yang menentang ini semua. Tiba saat saya berlibur ke Medan, suasana keluarga saya sudah tidak ada kehangantan lagi buat saya. Wajah Bapak yang begitu garang melihat saya, wajah Ibu yang begitu cuek ke saya dan wajah semua keluarga saya juga menunjukkan perasaan tidak suka kepada saya. Saya akhirnya memilih untuk diam dan tidak banyak berbicara. Dan suatu ketika disitu suasana rumah sudah kacau, saya dipaksa untuk berpisah saat itu juga dan dipaksa untuk memilih antara Bapak dan pria itu. Saat itu Bapak saya sudah mengambil tali dan berkata Bapak mati saja kalau kamu memilih dia. Akhirnya air mata dan keributan pun terjadi dan Ibu saya juga sudah hampir pingsan karena saya yang begitu memihak dan membela pria itu.

Keributan pun akhirnya selesai juga namun, saya harus tetap berpisah dengan pria itu. Sakit?? ya... memang sakit sekali, 3 tahun menjalin hubungan dan mempertahankannya semua harus berakhir.

Sidang akhir kuliah saya pun mulai di laksanakan saat itu semua kejadian pemaksaan untuk berpisah harus aku lupakan sejenak, dan aku fokus pada persiapan sidang ku... puji Tuhan pria ini terus memberi semangat kepada saya dan juga terus mendoakan saya. Padahal setelah sidang usai aku harus mengambil keputusan yang mungkin dia sendiripun tidak akan sanggup untuk menerimanya.

Puji Tuhan sidang pun akhirnya selesai dan aku mendapatkan nilai yang bagus, tapi sidang bagi diriku sendiri belumlah selesai. Aku masih harus menguatkan diriku untuk menyampaikan keputusan ku... berat sekali bagiku untuk mengatakannya. Sampai-sampai aku mengatakan hal ini pada saat hari ulang tahun ku...sakit sekali bagiku, disaat aku harus bergembira saat itu juga aku harus kehilangan orang yang aku cintai dan kasihi. Pria ini pun terdiam dan menangis, kami hanya bisa diam tanpa berkata apapun. Akhirnya pria ini dengan berat berkata ya inilah jalan yang terbaik untuk kita dan keluarga besar kita. Kita tidak mungkin bisa hidup tanpa keluarga kita dan dukungan mereka.... saat itu juga air mata ini pun tidak bisa lagi aku bendung... perpisahan pun akhirnya terjadi.

Awal-awal masa sendiri saya dan pria itu masih berkomunikasi namun tidak seperti dahulu lagi. Yah apa adanya saja.. saat saya harus sendiri saya mulai semakin mendekatkan diri dengan Tuhan...(Maz 37:3-7) dan satu hal, saya belum bisa membuka hati untuk orang lain.. saya menikmati pelayanan, saya menikmati kesendirian saya, dan yang paling saya nikmati banyak teman-teman perhatian kepada saya.

Setahun pun berlalu dengan kesendirian dan akhirnya aku pun membuka hati kepada seorang pria yang tidak satu suku dengan saya tapi tetap dia seorang Kristen. Namun selama menjalani hubungan bersam dia, saya mendapat begitu banyak tekanan baik dari dia sendiri maupun dari orang tuanya, yang menginginkan anaknya untuk mendapatkan gadis yang satu suku dengannya. Ditambah lagi adik-adiknya yang tidak terlalu mendukung hubungan kami.

Tekanan itupun semakin membuat saya tidak merasa nyaman, pergaulan saya dengan teman-teman saya pun mulai dibatasi dan klo setiap saya pergi bersama teman-teman dia selalu saja memantau saya. Ok dia bilang tanda dia sayang ke saya tapi... menurut saya sih itu sudah keterlaluan..

Akhirnya hubungan kami setiap saat ribut dan ribut.. lama-lama saya tidak tahan akan hubungan ini dan saya memutuskan untuk berpisah dengan dia.

Kalau dibilang sayang dan cinta, tentu saja saya menyayanginya dan mencintainya tapi semua harus berakhir lagi. Dan perpisahan ini berakhir dengan hal yang menyakitkan. Dimana setelah kami berpisah aku tidak tahu apa yang membuat dia mencaci maki aku dan menuduh aku berselingkuh, sampai-sampai dia mengeluarkan kata-kata yang selama ini itu mungkin tidak akan keluar.. gampangan ya.....gampangan....kata-kata itulah yang keluar dari mulut kecilnya... aku tidak mengerti mengapa kata-kata itu harus keluar dari mulutnya. Ternyata semua ini terucap karena seorang sahabat yang selama ini sudah aku anggap sebagai teman yang begitu baik dan bisa menjaga rahasia persahabatan, membokar semua apa yang sudah terjadi selama ini. Sahabatku menceritakan semua tentang pertemanan ku dengan teman-teman semasa SMA. Tapi entah mengapa dia harus menceritakan itu?? Ah.. hati ini mulai hancur dan sakit sekali. Aku pikir selama ini aku berteman dengan teman-teman SMA ku aku tidak berbuat apa-apa dan tidak lebih dari sekedar teman. Aku tidak tahu apa saja yang sudah diceritakan oleh sahabatku itu. Singkat cerita, emosipun memuncak. Selama 5 bulan emosi itu terus merasuki hati kecil ini. Kata-kata makian dan sumpah yang seharusnya tidak aku ucapkan akhirnya terucap.

Sampai suatu malam aku sudah merasa aku tidak ada artinya lagi untuk hidup dan aku memutuskan untuk mengakhiri semua...aku mengambil pisau dan ingin menyayat tangan ini..tapi aku mendengar suatu suara yang luar biasa dari hati kecil ini...dan seketika itupun Handphoneku pun berbunyi. Ternyata mama menelepon ku. Aku kaget luar biasa dan terdengar suara mama lagi apa nak ku? Tersentak hati ini ingin menangis, tapi aku tahan. Aku menjawab lagi nonton saja. Percakapan yang singkat dan akhirnya selesai juga. Selesai berbicara aku menangis luar biasa, dan aku mendengar suara yang begitu lembut dari hati ini, anak Ku janganlah kau menangisi orang, percuma air matamu hanya untuk orang lain, menangislah untuk Ku.. ingat orang tuamu dan keluargamu dan orang-orang yang sayang padamu”. Saat itu pisau yang ada ditangan inipun akhirnya terjatuh dan aku menangis dan menangis sambil berlutut dan berdoa..

Haripun berganti, akupun harus menghadapi telepon dari dia kembali. Sabar....sabar dan sabar hanya ini yang terucap ketika aku harus mengangkat telepon dari dia. Tapi sama saja aku tidak bisa menahan emosi ku.. aku jatuh lagi dan jatuh lagi, ketika dia harus mencaci maki aku dan merendahkanku. Aku tidak mampu untuk menahan emosi ketika kata-katanya menyakiti hati ini. Akhirnya semua ini aku ceritakan kepada teman-teman PA ku dan Nora (istri Pendeta) yang sangat bisa memahami setiap hati kami. Saat aku menceritakan ini, aku merasa aku mempunyai keluarga yang begitu bisa memahami aku dan bisa memberi kekuatan buat aku, Thanks God. Aku mendapatkan kekuatan yang luar biasa aku diajar untuk selalu besabar dan tidak menanggapi teleponnya lagi... dan aku benar-benar merasa kuat dan rasa sakit itu kini sudah bisa pulih kembali. Luar biasa Firman Tuhan dalam Fil 4:13 ”Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan bagiku”. Sungguh ayat ini memberi kekuatan dan sukacita buat aku ketika aku harus menghadapi perkara yang besar dalam hidupku. Sampai saat ini aku masih mengingat kata-kata seorang saudara PA ku, masalah itu hanya masalah yang kecil dan sepele!!! Ya..... benar masalah ini hanya masalah sepele dan tidak perlu ditangisi lagi.

Luar biasa apa yang boleh aku alami dalam hidupku selama 5 bulan ini, banyak hal yang membuat aku bisa merasakan jamahan Tuhan yang luar biasa. Yang menuntun aku untuk sabar dalam menjalani kehidupan ini. Walaupun aku harus kehilangan seorang sahabat yang aku sayangi dan kehilangan seorang laki-laki yang selama ini aku cintai, tapi aku sadar, masih ada cinta sejati yang melebihi cinta anak manusia. Itu adalah Cinta Tuhan Yesus Kristus (Yeremia 31:3) ”Aku mengasihi engkau dengan kasih kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” Memang hidup tidaklah mulus tapi akan ada batu dan kerikil-kerikil tajamnya. Tapi ini semua mengajarkan kita untuk setia dalam setiap perkara-perkara yang boleh terjadi dalam hidup kita. Kasih adalah dasar dari segala sesuatu yang membuat kita bisa bersabar,

(1 Kor 13:4-7) ”Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”.

Nah, kualitas hidup kita yang panjang sabar pun dapat bertahan bila memiliki harapan yang terbit dari Janji Allah dalam kitab suci. Dan seperti penggalan satu pujian yang aku dengarkan saat aku menulis ini membuat aku merasa bahwa Tuhan sungguh menggenapi janjiNya bagi kita.

Habis hujan tampak langit

Bagai janji yang teguh

Dibalik duka, menanti

Pelangi kasih Tuhanmu.

Kita tidak akan tau apa yang dimiliki hari esok, tetapi anda tau siapa yang memegang hari esok. (Maz 131)

Karena itu marilah kita memulai hidup untuk sabar dalam menantikan segala sesuatu yang telah disediakan Tuhan untuk kita. Jadilah Wanita yang penuh penyerahan diri pada Tuhan, bersabarlah dan nantikalah buah yang manis.

Dimata Tuhan cinta tak pernah habis. Di hati Tuhan pengampunan selalu diberikan dan tidak ada penolakan. Dipelukan Tuhan tak seorangpun merasa sendirian.

syaloom
Salam kenal namaku Erika Juliana Br. Purba
aku permata Bandung Pusat dan Guru Sekolah minggu juga
ini aku kirimkan tulisan kepada teman2 permata di salatiga, semoga bermanfaat.

Selamat membacanya. Tuhan berkati...

salam

ika poerba